Format File Kamera Digital dan Prinsip Ekonomi
-
Right man in the right place…!!! Rasanya prinsip ekonomi yang satu ini tepat untuk menyikapi perdebatan klasik seputar format file mana yang lebih baik digunakan untuk kamera digital kita. Karena jika kita tahu kelebihan masing-masing format file tersebut, maka kita bisa mencapai hasil optimal atas foto jepretan kita. Beberapa format file yang sering digunakan diantaranya adalah JPEG, RAW dan TIFF. JPEG (Joint Photograph Expert Group) adalah format file yang telah mengalami kompresi. File yang dihasilkan dari format ini langsung bisa dikenali oleh software foto editing, kecil, portable namun tetap berkualitas. JPEG mempunyai nilai color bit depth (kedalaman warna) sebesar 8 bit/chanel atau sama dengan 256 warna. Pada format JPEG, file yang dihasilkan merupakan data olahan yaitu dari sensor masuk prosesor kamera untuk diolah sesuai dengan setting kamera, misal untuk white balance, saturasi, sharpeness, ukuran image, dsb. Karena bersifat olahan makan kesalahan setting white balance misalnya, akan sulit untuk diperbaiki. Format ini lebih cocok digunakan jika kita tidak menginginkan editing lagi, karena jika kita melakukan editing maka saat kita melakukan penyimpanan file akan mengalami kompresi, akibatnya banyak pixel data yang hilang atau system kompresinya loosely.Format file sendiri sangat mempengaruhi warna yang terkandung dalam sebuah subjek, karenanya kesempurnaan sebuah foto didapatkan jika format file foto tersebut tidak dikompresi. Semakin tinggi kompresi sebuah format file akan semakin sedikit pula nilai warna yang terkandung di dalamnya, akibatnya objek akan terlihat pecah (warnanya) jika diperbesar dan kekosongan tangga nada warna akan terlihat terutama dibagian gelap/abu-abu. Pada kamera digital, mode tanpa kompresi ada pada format TIFF dan RAW.
TIFF (Tagged Image File Format) mempunyai ukuran file yang sangat besar dan mempunyai gradasi warna lebih banyak karena merupakan standart warna tanpa kompresi. Nilai garadasi warna TIFF adalah 12 bit/chanel atau sekitar 1024-4096 warna. Sebagaimana JPEG, TIFF juga langsung bisa dikenali oleh software photo editing karena sifatnya yang universal. Sedangkan format file RAW yang artinya adalah “mentah”, merupakan sebuah format file nonkompresi yang dihasilkan oleh sensor setelah melewati prosesor kamera dimana detail warna dan informasi setting lainnya direkam secara utuh apa adanya. Karena masih “mentah”, jangkauan koreksi atas hasil foto masih sangat luas dan variatif, meliputi whitebalance, noise reduction, exposure, sharpness, contrast dan saturation. Proses editing foto dengan format RAW tidak menyebabkan adanya pixel yang hilang. RAW file juga diyakini mempunyai kemampuan dynamic range yang baik dibanding format file yang lainnya. Sebagai format file nonkompresi RAW mempunyai ukuran file yang sangat besar dengan color bit depth (kedalaman warna) juga besar, yaitu mencapai 16 bit. Namun, karena merupakan format file yang tidak universal maka software photo editing tidak bisa langsung membacanya dan kita membutuhkan software conveter untuk mengkonversinya menjadi format lain, yaitu TIFF atau JPEG. Bisa dikatakan, meskipun mampu menghasilkan foto yang berkualitas bagus, menggunakan RAW sedikit membutuhkan perjuangan dan pengorbanan.
Karena masing-masing format file memiliki kelebihan dan kekurangan, ketepatan memilihnya sebagai format file dikamera digital kita tak ubahnya seperti memilih baju yang tepat untuk kita gunakan pada suatu moment, yaitu kapan kita harus memakai baju resmi dan kapan kita seharusnya memakai baju santai agar tidak terjadi kesenjangan. Misalnya saja, untuk foto dokumentasi pengantin yang ribuan file jumlahnya, adalah tidak tepat kalau kita menggunakan TIFF atau RAW yang notabenenya membutuhkan kapasitas memori yang besar, jadi sebaiknya untuk keperluan ini kita menggunakan JPEG. Atau saat kita membutuhkan foto dalam waktu cepat, sebaiknya kita juga menggunakan JPEG karena jika kita menggunakan RAW kecepatan kamera akan berkurang, belum lagi kita harus mengkonversinya terlebih dahulu dan pastinya akan sedikit “ribet”. Namun, jika kita ingin memotret untuk dicetak ukuran besar, TIFF bisa menjadi alternatif karena bisa dipastikan foto tidak akan pecah. Untuk foto keluarga, foto wedding atau prewedding yang penting dan hunting foto serius sebaiknya menggunakan RAW karena akan menghasilkan foto dengan kualitas maksimal karena kesalahan pada saat memotret dapat diperbaiki di luar kamera tanpa menurunkan kualitasnya.
Tapi perlu diperhatikan, pemilihan format file tersebut kadangkala tidak hanya tergantung pada tujuan atau kebutuhan kita memotret, tapi juga tergantung pada tipe kamera dan kapasitas memori kita. Dimana umumnya format TIFF ataupun RAW lebih banyak digunakan oleh para professional karena fotografer amatir terkesan belum begitu membutuhkan. Intinya, berbicara tentang format file mana yang lebih baik hanyalah tentang memilih baju yang tepat untuk kita gunakan pada suatu moment. Dan ini merupakan bentuk penerapan prinsip ekonomi yang saya sebutkan di atas, yaitu right man in the right place, dimana efek dari penerapan prinsip ini adalah kita bisa mendapatkan hasil yang optimal dari apa yang kita usahakan.
Semoga bermanfaat…
Kesadaran adalah Matahari... Kesabaran adalah Bumi... Keberanian Menjadi Cakrawala... dan Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-Kata.. .







