Awal Perjalanan si Fulan Keturunan Adam
-
“Astaghfirullah Robbal Barooyaa… Astaghfirullah Minal Khotooyaa… Robbi Zidhnii ‘ilman naafi’aa… Wa waafiqlii ‘amalan magbuullaan Wa waahablii rizqon waasi’aa… Watub ‘alaiya taubatan nasuuhaa…” .
Masih terngiang jelas di telingaku suara-suara itu…
Suara-suara penuh kesungguhan… Penuh Rasa…
Penuh Penghayatan yang mampu menyiratkan kedamaian…
Sesaat aku memejamkan mata…
Memahami arti sebuah ketenangan hati untuk pertama kali di sini…
Di sebuah rumah kontrakan kecil depan masjid Baiturrachim…
Samar-samar kulihat sebuah bayangan seseorang yang tak lain adalah Ibuku…
Berjalan mendekat lalu berbisik kepadaku untuk segera beranjak dari tempat tidur…Aku hanya terdiam… Mengedipkan mata kemudian menarik selimut usang untuk menutupi seluruh tubuhku berharap agar bisa merasakan ketenangan itu lebih lama lagi…
Namun tak lama setelah itu suara-suara kedamaian itu hilang dan digantikan seruan adzhan Shubuh yang membuatku melompat dari tempat tidur dan berteriak sekencang-kencangnya memanggil Ibu dan Ayahku yang berjalan menuju Masjid…
Namun mereka tidak mendengar teriakanku…
Aku berlari sekencang-kencangnya untuk mengejar mereka…
Aku berhasil menggapai tangan Ibuku…
Kemudian Aku menangis…
Ibuku hanya tersenyum kemudian memelukku erat-erat dan menggendongku menuju masjid…Sebuah Perjalanan Panjang… Kuawali di Sini…
Kesadaran adalah Matahari... Kesabaran adalah Bumi... Keberanian Menjadi Cakrawala... dan Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-Kata.. .







